Cerita Nonton Konser Band Internasional ~ Bag.1

Tidak banyak konser band internasional yang pernah saya datangi. Sambil bikin tulisan ini sambil saya ingat-ingat lagi. Coba saya list lagi dari yang paling  pertama itu The Exploited (2006), NoFX (2007), MxPx (2008), Extreme Noise Terror (2008), Total Chaos (2009), Terror (2009), New Found Glory & The Starting Line (2011), Metallica (2013), Kylesa (2014), Agnostic Front (2018) , H2O  & Dead Kennedys (Hammersonic 2018).

Yap! setelah di ingat-ingat lagi ternyata memang benar tidak banyak, hanya 11 Konser Band luar yang saya pernah datangi. Beberapa diantara band tersebut saya memang die hard fans, tapi beberapanya lagi karena mungkin karena pas aja timingnya. Pas ada duit, pas ada waktunya, ya nonton aja. Bahkan mungkin tidak suka suka amat band nya.

Saya coba ceritain dari 3 Konser Band Internasional Terbaik yang pernah saya datangi terlebih dahulu :

1 Metallica – Live In Jakarta, 25 Agustus 2013 @ GBK

Sebenarnya saya bukan penggemar Metallica dari lama, bahkan terbilang telat. Saya mendengarkan dan menyukai Metallica kalau tidak salah di tahun 2012an setahun sebelum konser nya ada haha. Saya sering mendengarkan metallica dipengaruhi kawan saya Mumuy yang memang die hard fans metallica semenjak lama. Saya janji kalau nanti Metallica ke Indonesia, saya akan traktir dia beli tiketnya, karena dahulu ketika tahun 1993 Metallica ke Indonesia Mumuy yang kala itu sedang SMA sudah bersusah payah ke Jakarta untuk menonton Metallica tapi gagal menonton karena konser keburu rusuh dan dibubarkan.

Sebelum pergi ke konsernya, tentunya saya mencari set-list lagu yang Metallica bawakan  apa saja di konser terakhirnya dan ternyata hampir 80% lagunya memang saya suka dan ternyata juga dibawakan di konsernya di Indonesia. 

Band yang jadi opening Metallica adalah Seringai, salah satu band favorit saya juga sih ini mah, pas mereka perform eh kok, soundnya busuk amat, bahkan gak ada big screen di panggungnya. Saya yang ada di dekat barikade terdepan pun melihat mereka manggung terlalu kecil. Peralatan sound nya terlihat untuk panggung skala 17an. Kecil banget, sama angin aja kalah suaranya. Kalau nanti pas Metallica kualitas sound dan visualnya seperti ini sih saya pulang aja, dalam hati saya bicara.

Ternyata saya salah, seluruh area stage tersebut ketika Metallica perform adalah sebuah display orion yang sangat besar dan sound yang keluar pun tentunya berbeda dengan fasilitas sound yang dipakai oleh Seringai sebelumnya. Beda! Tentunya, ini benar Metal Warlord kelas Dunia! Produksi panggungnya bagus banget.

Screen Orion Diseluruh Area Panggung tsb tidak menyala ketika Seringai Perform

Kalau yang suka nonton dvd konser Metallica pasti ngeh sama kualitas ini, bener2 keren dan puas banget nontonnya. Kayak gak ada beda sama kualitas di DVD konser yang suka di tonton, saking sama nya cara komunikasi james hetfiel, setlist dan aransemennya juga gk beda2 jauh malah :p.. “Do you feel me…” ← ucapan yang sering dilontarkan Pakde James tiap konser yang jadi kerasa template banget di setiap konser mereka.

 

2 Agnostic Front – SE Asia Tour, Live in Jakarta  5 Mei 2018 @ Toba Dream

Konser yang saya tunggu banget. Band yang banyak kasi influence buat Gladiator, band hardcore punk yang saya gawangi sejak tahun 2006. Tahun 2018 saya unemployed tapi masih ada uang tabungan dan saya memaksakan untuk tetap pergi ke konser mereka. Beberapa tahun sebelumnya sempat ada rumor mereka mau tampil di Hammersonic Fest tapi gagal. Pertimbangan saya memaksakan untuk nonton mereka karena mereka sudah terlalu tua, umur Stigma gitarisnya saja kalau tak salah sudah 65 tahun ketika konser kemarin, takutnya keburu RIP mereka kalau nunggu untuk datang ke 2x nya lagi ke Indonesia. Metallica saja memerlukan 20 tahun untuk balik ke Indonesia. 

Saya pergi bersama rombongan kawan kawan komunitas Hardcore/punk patungan sewa mini bus dari Bandung ke Jakarta. Sampai Jakarta sore hari kalau tidak salah. Beberapa meter dari venue ada mesjid, saya sempat solat ashar dan magrib di mesjid tersebut. 

Sebenarnya konser band ini tidak bagus-bagus amat. Opening act band lokal yang terlalu banyak (jadi kayak festival), Sounds gitaris Agnostic Front yang kadang mati di tengah tengah lagu. Dan ada satu momen rusuh yang bikin panik ketika mau perjalanan pulang ke bandung yakni ; rusuh hooligan! 

Jadi rumornya ada hooligan jakarta yang dipukul entah oleh siapa dan karena apa tapi merembet menjadi kemarahan holigan jakarta kepada penonton konser Agnostic Front dari Bandung. Lah, apa hubungannya? Gak ada, kita adem ayem buat nonton musik loh bukan buat dukung tim bola hahaa. Emang sih secara history Agnostic Front ini band skinhead, dan skinhead identik dengan hooliganism, tapi kalo nyasar penonton dari Bandung yang innocent kan jaka sembung bawa golok.

Tapi diluar beberapa faktor busuk di atas tersebut, konser ini tetap menjadi konser band internasional terbaik yang pernah saya datangi. Karena apa ya, mungkin karena saya memang menyukai banget band ini, vibe konsernya pun terasa khusyu ala harcore punk banget, moshpit yang sesak, stage diving dan sing along dari awal hingga akhir konser. 

New Found Glory & The Starting Line (Jakarta Jam) 22 Februari 2011 @ Tennis Indoor Senayan Jakarta

New found glory pernah konser sebelumnya di jakarta, dan saya absen. So, untuk yang kedua kalinya wajib nonton nih. Bela belain pergi sendiri naik travel loh. Di jakartanya juga bingung naik apa sebenarnya karena belum ada gojek dan gmap waktu itu. Modal nekat demi NFG!!

Opening Act nya ada pee wee gaskins dan The Starting Line. Tapi The Starting Line kayaknya bukan opening deh, emg line up utama nya juga. Tapi kasian banget liat mereka manggung tanpa crew stage, beres2in drum set dan effect sendiri lah. Beda ama NFG yang setup stage dengan full team.

Saya mendengarkan The Starting Line semenjak SMA, suka banget! Salah satu band pop punk favorit saya era itu. Kalau bisa sedikit cerita runutan musik yang saya dengarkan dari SMA hingga kini memang berawal dari Pop Punk, lalu berlanjut ke Emo, Metalcore, Hardcore/punk, dan neo crust / dark metal. Mungkin karena udah lama gak pernah nonton langsung gigs band pop punk, dan keseringan nonton band d-beat mungkin sebelumnya, jadi pas nonton TSL kok vibe nya gk kena ya… too pop for punk aja gtu.. Biasa head bang ampe leher kerasa mau lepas, teriak sampai serak, kok ini nyanyi nyanyi aja kayak nonton Kahitna. Mungkin TSL cocok untuk di dengarkan saja, bukan untuk di tonton performnya buat saya. 

Ekspektasi saya pun gak berbeda jauh untuk NFG setelah nonton TSL. kayaknya salah gigs nih, saya udah gak cocok dengan vibe pop punk buat saya yang ketika itu lagi hardcore banget kayaknya. Tapi saya salah, pas NFG masuk dan lihat atraktifnya mereka dan sound pop punk yang dicampur dengan “easy core” ala mereka ternyata masih cocok buat telinga saya yang sudah terlalu hardcore. Moshpit ramai, sing along breakdown ala Hardcore Tough Guy di tiap lagunya, dan satu yang paling saya ingat dari perform NFG adalah cara mereka berkomunikasi dengan kita penonton ketika bermain musik, semua mata personil NFG menatap dan selalu mencari mata yang melihat mereka. Jadi kita ngerasa di perhatikan. Itu dilakukan oleh semua personilnya, kecuali drummer deh kayaknya. 

Teman teman saya yang nonton pun semua ngerasa ge-er, ngerasa diliatin terus oleh semua personilnya. Selalu ada kontak mata di tiap lagu nya, apalagi di bagian lagu yang nyanyi bersama. Terasa sangat intim sekali. Ya cara ini bisa dilakukan kalau stage nya kecil, kalau stage nya sebesar metallica sih gak bisa. Ini pengalaman baru buat saya, dan saya selalu aplikasikan buat Gladiator ketika manggung di gigs kecil tanpa barikade. Mantap! Pop punks not dead!

Cerita nonton konser ini ternyata panjang juga ya, saya lanjut lain kali deh.. Hehe

Tags: